*Disampaikan oleh Dwija Saputra,
Mahasiswa Prodi Agribisnis’09 Fakultas Pertanian Univ. Brawijaya
“Dalam peperangan, ilmu menyebabkan
kita saling meracun dan saling menjegal. Dalam perdamaian, dia membikin hidup
kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang
menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang
sedikit sekali kepada kita?”
(Pesan Albert Einstein kepada
mahasiswa California Institute of Technology)
Assalam, ,…
Pendahuluan
Manusia
adalah makhluk spiritual dan khalifah Tuhan di muka bumi. Seluruh aspek kehidupan dan eksistensinya harus dibina
dengan memperhatikan kenyataan dirinya. Pengetahuan manusia juga tidak keluar
dari hukum ini. Oleh karena itu, jika pengetahuan dibangun di atas dasar
spiritual, yaitu antropologi ilahi dan pandangan dunia agama, maka akan tengak
tangga perkembangan dan kemajuan manusia dalam kehidupan individu dan sosial.
Dalam kerangka inilah manusia dapat menggunakan berbagai fasilitas
epistemologisnya dalam mengenal dan mengekspoitasi jagad raya. Jika tidak
demikian, pengetahuan pada dasarnya hanyalah imajinasi yang sistematis tak
ubahnya dengan tangga yang rapuh; seseorang boleh jadi naik beberapa langkah,
akan tetapi akan terbanting ke tanah dengan keras.
Tujuan Awal
Ilmu Pengetahuan
Secara
definitif, ilmu adalah pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan
hidupnya. Maka, patutlah dikatakan, bahwa peradaban manusia sangat bergantung
kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini, pemenuhan
kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah. Secara
lebih spesifik, Eugene Staley menegaskan bahwa teknologi adalah sebuah metode
sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani.
Bahkan
secara lebih komprehensif, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan
pemerintah dalam menunjang pembangunannya. Misalnya dalam perencanaan dan programing pembangunan,
organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan sumber-sumber
insani, dan teknik pembangunan dalam sektor pertanian, industri, dan kesehatan.
Puncaknya,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan saja membantu manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan
teknologi berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Bendungan,
kalkulator, mesin cuci, kompor gas, kulkas, OHP, slide, TV, tape recorder,
telephon, komputer, satelit, pesawat terbang, merupakan produk-produk teknologi
yang, bukan saja membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi membuat
hidup manusia semakin mudah.
Teknologi:
Kemudahan yang Menghancurkan
Perlahan tapi pasti, tujuan mulia ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, mengalami pergeseran.
Teknologi yang sejatinya hanyalah sarana dan alat bagi manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya, berubah menjadi sesuatu yang diberhalakan. Padahal,
seharusnya ilmu dan teknologi hanya sebagai alat dalam kehidupan, bukan sebagai
gantungan atau andalan dalam kehidupan. Amien Rais menggambarkan, bahwa ada
kecenderungan manusia modern untuk mengagung-agungkan atau menyembah ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dalam pandangan manusia modern, iptek adalah means
everything, segala-galanya. Seolah-olah, di tangan iptek-lah
kesejahteraan manusia masa depan akan digantungkan.
Lebih lanjut, pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan
mengancam kelestarian bumi sebagai tempat pijak manusia. Perlombaan senjata
nuklir yang belakangan ini semakin marak makin menambah daftar negatif
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan senjata nuklir yang
semula untuk tujuan mulia kemanusiaan, malah menciptakan ancaman maha besar bagi
kelanjutan peradaban manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi ibarat pisau
belati. Jika dipakai orang baik, akan menciptakan kemakmuran bagi manusia.
Sebaliknya jika dipakai orang jahat, akan menciptakan bencana kemanusiaan yang
lebih dahsyat. Jenis kedua inilah yang sekarang tengah terjadi pada dunia.
Akhirnya, ilmu pengetahuan yang seharusnya membebaskan manusia dari pekerjaan
yang melelahkan spiritual, malah menjadikan manusia sebagai budak-budak mesin.
Pengaruh Ilmu
terhadap Konstruksi Nilai dan Ikhtiar Budaya Agama
1. Penemuan
hukum-hukum alam, “Dia-lah yang ditetapkan-Nya manzilah-manzilah
(tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan
tahun dan perhitungan (waktu)” (Yunus [10]: 5; Al-Isra [17]:12).
2. Tauhid Dzati, “Karena
itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui” (Al-Baqarah [2]: 22; Al Imran [3]:18).
3. Teguran dan mengingat Tuhan,
“Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah),
sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah [2]: 239).
4. Ibadah dan penghambaan, “Dan berpuasa
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Baqarah [2]: 184, 280; Al-Anfal [8]: 27; Al-Ankabut [29]: 29, 34; Al-Jumuah [62]: 9; Al-Syu’ara [26]: 132).
5. Mencermati apa-apa yang ada pada sisi Tuhan, “Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Nahl [16]: 95)
6. Tauhid dalam sifat
kepemilikan Tuhan, “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya,
jika kamu mengetahui?”. (Al-Mu’minun [23]: 84).
7. Memahami kehadiran dan
membesarkan Allah swt., “Sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat
dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui”. (Al-Mu’minun [23]: 88;
Al‘Alaq [96]: 14).
8. Berserah diri pada
qadha ilahi, “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat
ditangguhkan, kalau kamu mengetahui” (Nuh [71]: 4).
9. Mengenal yang benar dan yang salah, “Dan agar
orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang
hak dari Tuhan-mu”. (Al-Hajj [22]: 54, 62; Al-Baqarah [2]: 26, 44; Al-Ankabut [29]: 41).
10. Memahami hakikat dunia dan akhirat, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau
dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui”. (Al-Ankabut [29]: 64).
11. Memahani nilai dan kebesaran diri, “Dan amat jahatlah
perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui”. (Al-Baqarah [2]: 102; Al-Hasyr [59]: 19).
12. Meninggalkan rayuan untuk berbuat dosa, “Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,
sedang mereka mengetahui”. (Al-Imran
[3]: 135).
13. Khusyuk, “Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (Fathir
[35]: 28; Al-Isra [17]: 107, 109).
14. Berharap pada rahmat
Tuhan, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang
yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut
kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah:
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?”. (Al-Zumar [39]: 9).
15 & 16. Rendah hati
dan memiliki derajat tinggi, “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan
kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan…”. (Al-Mujadilah
[58]: 11).
Poin-poin tersebut adalah
pengaruh dan buah dari ilmu pengetahuan yang dihasilkan dengan konsep pemahaman
komprehensif quranik, dan jelaslah bahwa semua itu menjelaskan segala
manifestasi kesempurnaan manusia, dan pengejawantahan kehidupan yang hakiki.
Oleh karena itu, Imam Ali as. mengatakan, “Ilmu adalah kehidupan”, (49) dan
Rasulullah Saw. juga mengatakan, “Ilmu adalah cahaya dan pelita yang dibetikkan
Allah di hati para kekasih-nya dan dengannya berbicara melalui lisan mereka.”
Terima kasih
atas perhatiannya, Selalu memberikan Ilmu yang Bermanfat bagi Sesama, dimana
pun kalian berada,…… Itulah orang yang termasuk salah satu berpenghuni surga-Nya.
Wasalam, . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar