Senin, 14 Mei 2012

Peran Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Dalam Kehidupan Manusia Yang Terkait Dalam Konstruksi Nilai Dan Ikhtiar Budaya Agama*


*Disampaikan oleh Dwija Saputra, Mahasiswa Prodi Agribisnis’09 Fakultas Pertanian Univ. Brawijaya
                “Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjegal. Dalam perdamaian, dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?”
(Pesan Albert Einstein kepada mahasiswa California Institute of Technology)

Assalam, ,…
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk spiritual dan khalifah Tuhan di muka bumi. Seluruh aspek kehidupan dan eksistensinya harus dibina dengan memperhatikan kenyataan dirinya. Pengetahuan manusia juga tidak keluar dari hukum ini. Oleh karena itu, jika pengetahuan dibangun di atas dasar spiritual, yaitu antropologi ilahi dan pandangan dunia agama, maka akan tengak tangga perkembangan dan kemajuan manusia dalam kehidupan individu dan sosial. Dalam kerangka inilah manusia dapat menggunakan berbagai fasilitas epistemologisnya dalam mengenal dan mengekspoitasi jagad raya. Jika tidak demikian, pengetahuan pada dasarnya hanyalah imajinasi yang sistematis tak ubahnya dengan tangga yang rapuh; seseorang boleh jadi naik beberapa langkah, akan tetapi akan terbanting ke tanah dengan keras.

Tujuan Awal Ilmu Pengetahuan
Secara definitif, ilmu adalah pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Maka, patutlah dikatakan, bahwa peradaban manusia sangat bergantung kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini,  pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah. Secara lebih spesifik, Eugene Staley menegaskan bahwa teknologi adalah sebuah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani.
Bahkan secara lebih komprehensif, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan pemerintah dalam menunjang pembangunannya. Misalnya dalam perencanaan dan programing pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan sumber-sumber insani, dan teknik pembangunan dalam sektor pertanian, industri, dan kesehatan.
Puncaknya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Bendungan, kalkulator, mesin cuci, kompor gas, kulkas, OHP, slide, TV, tape recorder, telephon, komputer, satelit, pesawat terbang, merupakan produk-produk teknologi yang, bukan saja membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi membuat hidup manusia semakin mudah.
Teknologi: Kemudahan yang Menghancurkan
Perlahan tapi pasti, tujuan mulia ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, mengalami pergeseran. Teknologi yang sejatinya hanyalah sarana dan alat bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, berubah menjadi sesuatu yang diberhalakan. Padahal, seharusnya ilmu dan teknologi hanya sebagai alat dalam kehidupan, bukan sebagai gantungan atau andalan dalam kehidupan. Amien Rais menggambarkan, bahwa ada kecenderungan manusia modern untuk mengagung-agungkan atau menyembah ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pandangan manusia modern, iptek adalah means everything, segala-galanya. Seolah-olah, di tangan iptek-lah kesejahteraan manusia masa depan akan digantungkan.
Lebih lanjut, pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan mengancam kelestarian bumi sebagai tempat pijak manusia. Perlombaan senjata nuklir yang belakangan ini semakin marak makin menambah daftar negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan senjata nuklir yang semula untuk tujuan mulia kemanusiaan, malah menciptakan ancaman maha besar bagi kelanjutan peradaban manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi ibarat pisau belati. Jika dipakai orang baik, akan menciptakan kemakmuran bagi manusia. Sebaliknya jika dipakai orang jahat, akan menciptakan bencana kemanusiaan yang lebih dahsyat. Jenis kedua inilah yang sekarang tengah terjadi pada dunia. Akhirnya, ilmu pengetahuan yang seharusnya membebaskan manusia dari pekerjaan yang melelahkan spiritual, malah menjadikan manusia sebagai budak-budak mesin.
Pengaruh Ilmu terhadap Konstruksi Nilai dan Ikhtiar Budaya Agama
1. Penemuan hukum-hukum alam, “Dia-lah yang ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” (Yunus [10]: 5; Al-Isra [17]:12).
2. Tauhid Dzati, “Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (Al-Baqarah [2]: 22; Al Imran [3]:18).
3. Teguran dan mengingat Tuhan, “Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah [2]: 239).
4. Ibadah dan penghambaan, “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Baqarah [2]: 184, 280; Al-Anfal [8]: 27; Al-Ankabut [29]: 29, 34; Al-Jumuah [62]: 9; Al-Syu’ara [26]: 132).
5. Mencermati apa-apa yang ada pada sisi Tuhan, “Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Nahl [16]: 95)
6. Tauhid dalam sifat kepemilikan Tuhan, “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”. (Al-Mu’minun [23]: 84).
7. Memahami kehadiran dan membesarkan Allah swt., “Sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui”. (Al-Mu’minun [23]: 88; Al‘Alaq [96]: 14).
8. Berserah diri pada qadha ilahi, “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui” (Nuh [71]: 4).
9. Mengenal yang benar dan yang salah,Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu”. (Al-Hajj [22]: 54, 62; Al-Baqarah [2]: 26, 44; Al-Ankabut [29]: 41).
10. Memahami hakikat dunia dan akhirat, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (Al-Ankabut [29]: 64).
11. Memahani nilai dan kebesaran diri,Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui”. (Al-Baqarah [2]: 102; Al-Hasyr [59]: 19).
12. Meninggalkan rayuan untuk berbuat dosa, “Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Al-Imran [3]: 135).
13. Khusyuk, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (Fathir [35]: 28; Al-Isra [17]: 107, 109).
14. Berharap pada rahmat Tuhan, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. (Al-Zumar [39]: 9).
15 & 16. Rendah hati dan memiliki derajat tinggi, “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan…”. (Al-Mujadilah [58]: 11).
Poin-poin tersebut adalah pengaruh dan buah dari ilmu pengetahuan yang dihasilkan dengan konsep pemahaman komprehensif quranik, dan jelaslah bahwa semua itu menjelaskan segala manifestasi kesempurnaan manusia, dan pengejawantahan kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, Imam Ali as. mengatakan, “Ilmu adalah kehidupan”, (49) dan Rasulullah Saw. juga mengatakan, “Ilmu adalah cahaya dan pelita yang dibetikkan Allah di hati para kekasih-nya dan dengannya berbicara melalui lisan mereka.”
Terima kasih atas perhatiannya, Selalu memberikan Ilmu yang Bermanfat bagi Sesama, dimana pun kalian berada,…… Itulah orang yang termasuk salah satu berpenghuni surga-Nya. Wasalam, . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar