Sabtu, 04 Agustus 2012

Assalamualaikum Wr.Wb

Kepada Yth Kakanda dan Ayunda
Di Tempat

Segala puji dan syukur selalu tercurahkan kepada kehadiran Allah SWT. di setiap sisi kehidupan kita semua.

Kami dari segenap Keluarga Besar HMI Cab. Malang Universitas Brawijaya Komisariat Pertanian dan HMI Cab. Malang Universitas Brawijaya Komisariat Teknologi Pertanian mengundang Kakanda serta Ayunda untuk turut memeriahkan suasana dan mempererat tali silaturahmi dalam  :
      Acara                   :  SILATNAS ( Silaturahmi Nasional )
      Hari dan Tanggal  :  Sabtu, 25 Agustus 2012
      Tempat                :  Informasi menyusul secepatnya.

Atas perhatiannya, kami segenap panitia mengucapkan terima kasih dan senantiasa mengharapkan kehadiran yang begitu berharga dari Kakanda dan Ayunda.

Wassalamualaikum Wr.Wb.


contact person : 
Ubay :  081333200199
Dwija : 085735007785        








  ~ YAKIN USAHA SAMPAI ~                 
    

Indonesia Jangan Sampai Besar

Indonesia adalah bangsa besar. Tanda kebesarannya antara lain adalah lapang jiwanya, sangat suka mengalah, tidak lapar kemenangan dan keunggulan atas bangsa lain, serta tidak tega melihat masyarakat lain kalah tingkat kegembiraannya dibanding dirinya.
Dari lingkaran katulistiwa, Indonesia memiliki 12,5%, dan itu lebih dari cukup untuk menguasai akses angkasa, satelit dan wilayah otoritas politik maupun perekonomian informasi dan komunikasi. Kita adalah a Big Boss industri teknologi informasi sedunia. Tapi kita sangat rendah hati dan mengalah. Kita tidak tega kepada “Negara Kecamatan” yang bernama Singapura, sehingga kekayaan kita itu kita shadaqahkan kepada tetangga kecil itu.
Keluasan territorial dan kesuburan bumi maupun lautan, kekayaan perut bumi, tambang-tambang karun, keunggulan bakat manusia-manusia Indonesia, pelajar-pelajar kelas Olimpiade, kenekadan hidup tanpa managemen, ideologi bonek, jumlah penduduk, kegilaan genetic dan antropologisnya, dan berbagai macam kekayaan lain yang dimiliki oleh “penggalan sorga” yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia — sungguh-sungguh merupakan potensialitas yang tak tertandingi oleh Negara dan bangsa manapun di muka bumi.
Tetapi, sekali lagi, kita adalah bangsa yang lembut hati dan jauh dari watak Raja Tega. Kekayaan-kekayaan itu kita persilahkan dikenduri oleh industri multinasional dan orang-orang serakah: emas rojo brono diangkuti tiap hari ke mancanegara. Dan itu bukan kekalahan, itu adalah kebesaran jiwa. Kita bangsa yang kaya raya karena amat sangat disayang Tuhan, sehingga kita pesta shadaqah dan infaq. Rakyat kebanyakan ikhlas menderita karena memilih sorga, dan toleran kepada sejumlah minoritas yang memang memilih neraka. Itu terkadang rakyat ikut rakus sedikit-sedikit, dengan pertimbangan tak enak atau pekewuh kalau kita dari dunia langsung masuk sorga tanpa menengok saudara-saudara kita yang di neraka. Tak baik-lah itu. Apa salahnya kita mampir juga beberapa saat di neraka, ngerumpi dengan handai tolan di sana .
Pada suatu hari TVRI, RRI, TNI, Polri dan berbagai mesin rumah tangga negara kita sewakan atau jual kepada tetangga. Berikutnya kita bercita-cita tak usah repot-repot menghabiskan ratusan milyar untuk pemilihan Presiden. Kita bisa mengontrak tokoh managemen dunia untuk memimpin negeri kita. Juga Menteri-menteri kita kontrak dari luar negeri, sebagaimana para pemain sepakbola. Dan puncaknya kelak, MPR bisa mengambil keputusan untuk bikin proposal memohon kepada Kerajaan Belanda agar berkenan memimpin kita lagi.
Bangsa kita adalah bangsa filosof. Kalau Presiden kita kontrakan dan Belanda atau terserah negeri maju manapun kita persilahkan memimpin, itu tidak berarti kita berada di bawah mereka. Dalam teori demokrasi, rakyat selalu tertinggi, Presiden dan Kabinet hanya orang yang kita upah dan harus taat kepada kita. Jadi sesungguhnya bangsa Indonesia tetap di atas. Sebagaimana seorang Imam shalat diangkat oleh makmumnya, Imam pada hakekatnya harus taat kepada makmum. Yang memilih ditaati oleh yang dipilih. Apalagi yang dipilih itu digaji. Makmum yang memilih Imam, tidak ada Imam memilih makmum.
Sejak 200 tahun yang lalu kekuatan bangsa Indonesia membuat dunia miris. Maka perlahan-perlahan, terdisain atau tak sengaja, terdapat semacam perjanjian tak tertulis di kalangan kepemimpinan dunia di berbagai bidang: Jangan sampai Indonesia menjadi bangsa yang besar, jangan sampai Negara Indonesia menjadi Negara yang maju. Sebab potensi alam dan manusia tak bisa dilawan oleh siapapun. Kalau diberi peluang, masyarakat Setan dan Iblispun kalah unggul dibanding ummat manusia Indonesia. Sedangkan orang Indonesia hidup iseng dan sambilan saja dalam melakukan apapun: setan-setan sudah semakin terpinggirkan dan kehilangan pekerjaan.
Dan kitapun sangat supportif kepada kehendak dunia untuk mengkerdilkan bangsa kita. Kita membantu sepenuh hati upaya-upaya untuk mengerkerdilkan diri kita sendiri. Sehari-hari, dalam pergaulan maupun dalam urusan-urusan konstelatif stuktural, kita sangat rajin menghancurkan siapapun saja yang menunjukkan perilaku menuju kemungkinan mencapai kebesaran dan kemajuan bangsa Indonesia. Setiap orang unggul tak kita akui keunggulannya. Setiap orang hebat kita cari buruknya. Setiap orang berbakat kita kipasi agar bekerja di luar negeri. Setiap orang baik takkan pernah kita percaya. Setiap orang tulus kita siksa dengan kecurigaan. Setiap orang ikhlas kita bantai dengan fitnah. Setiap akan muncul pemimpin sejati harus sesegera mungkin kita bikin ranjau untuk menjebak dan menghancurkannya.
Kita benar-benar sudah hampir lulus menjadi bangsa yang besar. Dan puncak kebesaran kita adalah kesediaan kita untuk menjadi kerdil.

Senin, 14 Mei 2012

Anis Baswedan, Mantan Aktivis HMI MPO masuk 100 Intelektual Top Dunia










Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan masuk ke dalam 100 intelektual publik teratas versi Foreign Policy.

Dalam situs foreignpolicy.com, Anies yang juga pengamat politik itu dinilai memiliki peran besar dalam pergerakan mahasiswa yang berhasil menggulingkan Soeharto.“Currently president of Paramadina University in Jakarta and a noted researcher, Baswedan played a leading role in the student movements that helped oust Indonesian dictator Suharto,” sebut lembaga itu.

Nama Anies disejajarkan dengan nama-nama top dunia, seperti Noam Chomsky (linguis, AS), Paus Benediktus XVI (pemimpin agama, Vatikan/Jerman), Francis Fukuyama (ilmuwan politi, AS), Al Gore (politisi/aktivis lingkungan, AS), Jurgen Habermas (filosof, Jerman), Samuel Huntington (ilmuwan politik, AS), Garry Kasparov (aktivis demokrasi/grand master catur, Rusia), Paul Krugman (ekonom, AS), Orhan Pamuk (novelis, Turki), Yusuf al-Qardhawi (ulama, Mesir/Qatar), Tariq Ramadan (filosof, Swiss), Salman Rushdie (novelis, Inggris), Jeffrey Sachs (ekonom, AS), dan Muhammad Yunus (tokoh mikrofinansial, Bangladesh).

Foreign Policy adalah lembaga yang didirikan pada 1970 oleh Samuel Huntington yang terkenal dengan bukunya “Benturan Antar Peradaban”.

Dikutip dari Wikipedia , Anies pernah bekerja sebagai National Advisor bidang desentralisasi dan otonomi daerah di Partnership for Governance Reform, Jakarta. Dia juga merupakan direktur riset pada The Indonesian Institute dan peneliti utama di Lembaga Survei Indonesia.

Sebelumnya, Anies bekerja sebagai Manajer Riset di IPC, sebuah asosiasi industri elektronika di Chicago, USA. Semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Anies pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)-Majelis Penyelamat Organisasi (MPO).

Anies adalah anak pertama dari pasangan Drs Rasyid Baswedan, SU (Dosen Fak Ekonomi Universitas Islam Indonesia) dan Prof DR Aliyah Rasyid, M.Pd (Dosen Fak Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta). Ia menikah dengan Fery Farhati, dan dikaruniai tiga anak: Mutiara Annisa, Mikail Azizi, dan Kaisar Hakam. Anies dan keluarga tinggal di Jakarta.

Jabatan rektor yang didudukinya saat ini adalah menggantikan cendekiawan Nurcholis Madjid yang meninggal beberapa tahun lalu. (sumber: http://www.juiceandgin.com/)

Peran Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Dalam Kehidupan Manusia Yang Terkait Dalam Konstruksi Nilai Dan Ikhtiar Budaya Agama*


*Disampaikan oleh Dwija Saputra, Mahasiswa Prodi Agribisnis’09 Fakultas Pertanian Univ. Brawijaya
                “Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjegal. Dalam perdamaian, dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?”
(Pesan Albert Einstein kepada mahasiswa California Institute of Technology)

Assalam, ,…
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk spiritual dan khalifah Tuhan di muka bumi. Seluruh aspek kehidupan dan eksistensinya harus dibina dengan memperhatikan kenyataan dirinya. Pengetahuan manusia juga tidak keluar dari hukum ini. Oleh karena itu, jika pengetahuan dibangun di atas dasar spiritual, yaitu antropologi ilahi dan pandangan dunia agama, maka akan tengak tangga perkembangan dan kemajuan manusia dalam kehidupan individu dan sosial. Dalam kerangka inilah manusia dapat menggunakan berbagai fasilitas epistemologisnya dalam mengenal dan mengekspoitasi jagad raya. Jika tidak demikian, pengetahuan pada dasarnya hanyalah imajinasi yang sistematis tak ubahnya dengan tangga yang rapuh; seseorang boleh jadi naik beberapa langkah, akan tetapi akan terbanting ke tanah dengan keras.

Tujuan Awal Ilmu Pengetahuan
Secara definitif, ilmu adalah pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Maka, patutlah dikatakan, bahwa peradaban manusia sangat bergantung kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini,  pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah. Secara lebih spesifik, Eugene Staley menegaskan bahwa teknologi adalah sebuah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani.
Bahkan secara lebih komprehensif, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan pemerintah dalam menunjang pembangunannya. Misalnya dalam perencanaan dan programing pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan sumber-sumber insani, dan teknik pembangunan dalam sektor pertanian, industri, dan kesehatan.
Puncaknya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Bendungan, kalkulator, mesin cuci, kompor gas, kulkas, OHP, slide, TV, tape recorder, telephon, komputer, satelit, pesawat terbang, merupakan produk-produk teknologi yang, bukan saja membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi membuat hidup manusia semakin mudah.
Teknologi: Kemudahan yang Menghancurkan
Perlahan tapi pasti, tujuan mulia ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, mengalami pergeseran. Teknologi yang sejatinya hanyalah sarana dan alat bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, berubah menjadi sesuatu yang diberhalakan. Padahal, seharusnya ilmu dan teknologi hanya sebagai alat dalam kehidupan, bukan sebagai gantungan atau andalan dalam kehidupan. Amien Rais menggambarkan, bahwa ada kecenderungan manusia modern untuk mengagung-agungkan atau menyembah ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pandangan manusia modern, iptek adalah means everything, segala-galanya. Seolah-olah, di tangan iptek-lah kesejahteraan manusia masa depan akan digantungkan.
Lebih lanjut, pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan mengancam kelestarian bumi sebagai tempat pijak manusia. Perlombaan senjata nuklir yang belakangan ini semakin marak makin menambah daftar negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan senjata nuklir yang semula untuk tujuan mulia kemanusiaan, malah menciptakan ancaman maha besar bagi kelanjutan peradaban manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi ibarat pisau belati. Jika dipakai orang baik, akan menciptakan kemakmuran bagi manusia. Sebaliknya jika dipakai orang jahat, akan menciptakan bencana kemanusiaan yang lebih dahsyat. Jenis kedua inilah yang sekarang tengah terjadi pada dunia. Akhirnya, ilmu pengetahuan yang seharusnya membebaskan manusia dari pekerjaan yang melelahkan spiritual, malah menjadikan manusia sebagai budak-budak mesin.
Pengaruh Ilmu terhadap Konstruksi Nilai dan Ikhtiar Budaya Agama
1. Penemuan hukum-hukum alam, “Dia-lah yang ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” (Yunus [10]: 5; Al-Isra [17]:12).
2. Tauhid Dzati, “Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (Al-Baqarah [2]: 22; Al Imran [3]:18).
3. Teguran dan mengingat Tuhan, “Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah [2]: 239).
4. Ibadah dan penghambaan, “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Baqarah [2]: 184, 280; Al-Anfal [8]: 27; Al-Ankabut [29]: 29, 34; Al-Jumuah [62]: 9; Al-Syu’ara [26]: 132).
5. Mencermati apa-apa yang ada pada sisi Tuhan, “Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Nahl [16]: 95)
6. Tauhid dalam sifat kepemilikan Tuhan, “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”. (Al-Mu’minun [23]: 84).
7. Memahami kehadiran dan membesarkan Allah swt., “Sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui”. (Al-Mu’minun [23]: 88; Al‘Alaq [96]: 14).
8. Berserah diri pada qadha ilahi, “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui” (Nuh [71]: 4).
9. Mengenal yang benar dan yang salah,Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu”. (Al-Hajj [22]: 54, 62; Al-Baqarah [2]: 26, 44; Al-Ankabut [29]: 41).
10. Memahami hakikat dunia dan akhirat, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (Al-Ankabut [29]: 64).
11. Memahani nilai dan kebesaran diri,Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui”. (Al-Baqarah [2]: 102; Al-Hasyr [59]: 19).
12. Meninggalkan rayuan untuk berbuat dosa, “Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Al-Imran [3]: 135).
13. Khusyuk, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (Fathir [35]: 28; Al-Isra [17]: 107, 109).
14. Berharap pada rahmat Tuhan, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. (Al-Zumar [39]: 9).
15 & 16. Rendah hati dan memiliki derajat tinggi, “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan…”. (Al-Mujadilah [58]: 11).
Poin-poin tersebut adalah pengaruh dan buah dari ilmu pengetahuan yang dihasilkan dengan konsep pemahaman komprehensif quranik, dan jelaslah bahwa semua itu menjelaskan segala manifestasi kesempurnaan manusia, dan pengejawantahan kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, Imam Ali as. mengatakan, “Ilmu adalah kehidupan”, (49) dan Rasulullah Saw. juga mengatakan, “Ilmu adalah cahaya dan pelita yang dibetikkan Allah di hati para kekasih-nya dan dengannya berbicara melalui lisan mereka.”
Terima kasih atas perhatiannya, Selalu memberikan Ilmu yang Bermanfat bagi Sesama, dimana pun kalian berada,…… Itulah orang yang termasuk salah satu berpenghuni surga-Nya. Wasalam, . . .

Minggu, 06 Mei 2012

NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan) yang ada di HMI selama ini dipercaya sebagai ideology. Seperti kita ketahui, ideologi dipahami sebagai cara pandang pada hidup kita masing-masing. Tapi menurut mazhab Kiri Baru, ideology adalah konsepsi pemikiran yang melahirkan tindakan yang berhadapan dengan realitas. Jadi, ideology haruslah dapat merubah realitas kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan yang terkandung dalam ideology dimaksud. Ini adalah definisi ideology yang akan kita gunakan pada tulisan ini.
NDP adalah konsepsi dari Cak Nur tentang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Nilai-nilai Islam yang absolute dan universal digabungkan dengan nilai-nilai Indonesia yang plural sehingga terlahirlah NDP. Namun, ada beberapa hal yang membuat NDP menjadi begitu sakral dan tidak mudah dipahami oleh sebagian besar kita. Andito, seorang kader HMI dari Bandung mencoba metodologi lain dalam memahami NDP. Beliau mengkritik isi NDP yang cenderung developmentalis dan membalikkan metodologi NDP versi Cak Nur yang sosiologis-teologis-filosofis menjadi filosofis-teologis-sosiologis sehingga lebih mudah dipahami dan lebih membumi. Tulisan berikut akan mencoba menjabarkan metodologi NDP versi Andito. Penulis sangat mengharapkan tanggapan, terutama perbedaan metodologi baru ini dengan metodologi penulisan yang disusun oleh Almarhum Cak Nur.

Filosofis
Ideology dalam pengertian diatas harus memuat konsep, sikap, dan aksi agar bisa berhadapan dengan realitas. Konsep itu sendiri adalah pengetahuan yang menyebabkan tersingkapnya objek oleh subjek dengan seyakin-yakinnya tanpa keragu-raguan. Yang menjadi objek dalam pengertian konsep adalah realitas atau eksistensi, atau kita bisa sebut wujud. Pemahaman atas realitas akan melahirkan sikap, sehingga pada akhirnya akan menentukan aksiyang kita ambil sehubungan dengan realitas yang ada. Aksi, setelah terakumulasi, akan melahirkan peradaban.
Realitas sebenarnya menimbulkan problem yang akhirnya melahirkan pengetahuan yang menjawab problem tersebut. Pengetahuan-pengetahuan yang telah lahir ini kemudian terakumulasi sehingga melahirkan –isme (contoh: massuroisme). Karena realitas yang bisa dipecahkan adalah realitas yang inderawi (dan harus bisa dijadikan indrawi), maka sebuah pengetahuan juga harus inderawi. Hal-hal yang tidak indrawi yang selama ini kita anggap pengetahuan sebenarnya adalah konsep pengetahuan.
Realitas itu sendiri ada dua macam; realitas materi dan relitas non-materi. Realitas materi terbagi lagi menjadi dua; empiris (contoh: baju, tubuh, spidol, dll) dan non-empiris (contoh: mimpi). Realitas materi ini menempati ruang dan waktu sehingga sifatnya terbatas sehingga tidak mungkin sempurna. Yang sempurna hanyalah realitas non-materi karena tidak menempati ruang dan waktu. Karena realitas yang dipecahkan oleh pengetahuan hanyalah realitas materi maka pengetahuan pasti terbatas. Produk yang menjadi akumulasi pengetahuan (-isme) juga dengan sendirinya pasti terbatas.
Salah satu ciri penting dari sebuah –isme adalah penggunaan simbol. Orang-orang punkakan menyimbolkan dirinya dengan rambut mohawk dan atribut logam sebagai lambang perlawanan. Para pendukung sosialisme cenderung mengangkat perlawanan petani dan rakyat miskin kota kepada penguasa sebagai simbol eksistensi mereka. Kapitalisme sendiri lebih pandai dalam menyamarkan simbolnya, seperti budaya pop-lifestyle yang telah mendarah daging dalam kehidupan kita.
Pemberian simbol pada sesuatu adalah berarti memberi nilai lebih. Artinya, memberi simbol ”mohawk dan piercing” pada orang-orang yang anti-kemapanan adalah menjustifikasi bahwa pemakai gaya mohawk dan piercing adalah pasti anti-kemapanan, padahal belum berarti seperti itu. Melihat orang yang mempaerjuangkan orang tertindas sebagai pengusung ideologi sosialisme kadang jadi kebiasaan. Begitu juga tanpa sadar kita telah menjustifikasi orang-orang dengan jilbab besar dan baju koko sebagai ”orang yang sebenarnya Islam” sebenarnya telah menyimbolkan Islam dengan jilbab besar dan baju koko tersebut.
Memberi nilai lebih pada sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki nilai itu adalah sesuatu yang melawan kehendak Allah, karena itu adalah pekerjaan Allah dan bukan samasekali pekerjaan kita. Dan melakukan pekerjaan Allah adalah sama saja dengan mengangkat diri sebagai Tuhan !!! bukankah itu adalah kedzaliman yang tak termaafkan? Maka dari bab Dasar-dasar Kepercayaan, keharusan pertama adalah menegasikan semua kepercayaan dan –isme selain kebenaran. Pertanyaan besarnya adalah; apakah kita sudah dapat dikatakan sebagai orang yang selamat ?